Notification

×

Cetak Biru Blank Spot OKI 2026 Dikritik Minim Target dan Data Terbuka

Kamis, 05 Februari 2026 | 20.04.00 WIB Last Updated 2026-02-05T13:04:11Z
Caption : Adiyanto,Kepala dinas Kominfo OKI. ( No tiga dari kiri), bersama pihak PT Telkomsel area Sumbagsel.Kamis (5/2/2026).


OKI, transkapuas.com — Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan,mulai menyusun cetak biru pengentasan wilayah tanpa sinyal (blank spot) untuk tahun anggaran 2026 bersama Telkomsel. Namun, rencana tersebut menuai kritik karena belum disertai target kuantitatif yang jelas serta keterbukaan data sebaran wilayah prioritas.


Rencana aksi ini dibahas dalam rapat koordinasi antara Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) OKI dan Telkomsel di Kantor Wilayah Telkomsel Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Kamis (5/2/2026). Pertemuan itu diklaim sebagai langkah awal pemetaan titik koordinat pembangunan jaringan telekomunikasi di OKI.


Kepala Diskominfo OKI, Adi Yanto, mengakui masih banyak wilayah di OKI yang terisolasi dari jaringan seluler. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak langsung pada pelayanan publik serta menghambat pertumbuhan ekonomi digital masyarakat desa.


“Pendataan titik blank spot menjadi dasar krusial bagi langkah pembangunan ke depan,” ujar Adi.


Namun demikian, meski Diskominfo mengklaim telah menghimpun data dari seluruh kecamatan sejak November 2025, pemerintah daerah belum membuka rincian jumlah desa terdampak, lokasi spesifik, maupun metode verifikasi data tersebut kepada publik. Ketiadaan data terbuka ini dinilai menyulitkan pengawasan dan pengukuran efektivitas program pengentasan blank spot.


Pemkab OKI juga mengklaim telah mengentaskan lima desa dari status blank spot sepanjang 2025 melalui skema Internet Gotong Royong. Dalam skema ini, pemerintah desa bertanggung jawab pada pembangunan infrastruktur pasif, sementara operator menyediakan jaringan.


“Tahun lalu ada lima desa yang tuntas. Tahun ini kami harap kerja sama diperkuat untuk menjangkau desa lain. Datanya sudah kami siapkan,” kata Adi.


Meski demikian, Diskominfo belum memaparkan indikator keberhasilan program tersebut, baik dari aspek kualitas dan stabilitas sinyal maupun dampaknya terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi publik.


Hingga kini, Pemkab OKI dan Telkomsel juga belum mengumumkan target pasti jumlah desa atau wilayah yang akan dientaskan pada 2026. Ketidakjelasan ini memunculkan pertanyaan mengenai posisi dan keseriusan OKI dalam peta jalan nasional yang menargetkan Indonesia bebas blank spot pada 2029.


Sementara itu, Manager Network Operation and Productivity Telkomsel Palembang, Riki Irawan, menyatakan komitmen perusahaan untuk terus memperluas jangkauan jaringan di OKI. Sepanjang 2025, Telkomsel mengklaim telah membangun 17 titik jaringan reguler di wilayah tersebut.


Ia menambahkan, perangkat penerima sinyal yang sudah tidak digunakan akan direlokasi ke wilayah lain yang masih belum memiliki akses internet.


“Tahun depan kami akan melanjutkan pembangunan jaringan reguler serta meningkatkan status BTS mobile menjadi permanen,” tandas Riki.


(Mas Tris)

×
Berita Terbaru Update