![]() |
| Caption: Pustu Nanga Layung, Seharusnya Jadi Harapan, Kini Kosong Dua Tahun Tanpa Tenaga Kesehatan. Akses Kesehatan Masyarakat Terancam |
Sintang (Kalbar), transkapuas.com - Desa Nanga Layung,Kecamatan Sepauk tengah menghadapi tantangan serius di sektor kesehatan. Selama dua tahun terakhir, Pustu (Puskesmas Pembantu) yang seharusnya menjadi tempat pelayanan kesehatan bagi masyarakat, kosong dari tenaga kesehatan. Hal ini menjadi sumber keluhan warga yang terpaksa harus menempuh perjalanan jauh ke desa tetangga untuk mendapatkan perawatan medis, pada Senin, 9 Februari 2026.
Ketidakadaan tenaga medis ini bukan hanya masalah fasilitas kesehatan yang tidak terisi, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kualitas hidup masyarakat. Masyarakat Desa Nanga Layung mengungkapkan rasa frustrasi mereka. "Setiap kali ada yang sakit, kami harus pergi ke desa yang jauh. Ketika infrastruktur jalan dalam keadaan buruk, kondisi ini semakin menyulitkan," ujar salah satu warga yang enggan disebutkan identitasnya.
Kepala Desa Nanga Layung, Donatus Erik, saat dimintai keterangan melalui pesan WhatsApp, menjelaskan situasi yang dihadapi oleh warga. "Desa kami terdiri dari tiga dusun: Dusun Kandis, Dusun Tajuk, dan Dusun Banai. Selama lebih dari dua tahun, Pustu kami kosong dari tenaga medis. Kami sudah mengajukan permohonan agar pemerintah menempatkan tenaga kesehatan, namun hingga kini belum ada tanggapan," ungkapnya.
Kades juga menambahkan, keberadaan tenaga kesehatan di desa sangat penting, terutama dalam situasi darurat.
"Jika ada pasien yang memerlukan perawatan segera, akses ke fasilitas kesehatan terdekat seperti Puskesmas atau rumah sakit bisa memakan waktu berjam-jam," lanjutnya.
Kepala UPTD Puskesmas Sepauk, Rano Alminus, juga memberikan klarifikasi mengenai situasi ini. Dalam komunikasi yang diterima, ia mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai kosongnya petugas di Desa Nanga Layung.
"Ya, benar. Saat ini informasi yang saya dapatkan menunjukkan bahwa desa tersebut masih belum memiliki tenaga kesehatan. Sebelumnya ada petugas, tetapi kini kosong," katanya.
Meskipun pihaknya menyadari permasalahan ini, Rano menegaskan bahwa untuk sementara waktu, warga yang membutuhkan perawatan harus pergi ke fasyankes (fasilitas layanan kesehatan) terdekat.
Kami akan berupaya untuk mengatasi masalah ini. Sebagai kepala yang baru di UPTD Puskesmas Sepauk, saya berkomitmen untuk mencari solusi bagi kekosongan tenaga kesehatan di desa ini," ujarnya.
Tidak hanya dua pihak yang terkait dalam permasalahan ini, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, dr. Rosa Trifina, juga dihubungi oleh awak media untuk memberikan tanggapan. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan pengecekan terkait kondisi di Desa Nanga Layung. "Nanti kami cek, Pak," jawabnya singkat, mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menanggapi situasi tersebut.
Masyarakat setempat tidak tinggal diam. Mereka berharap agar pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan, mempertimbangkan penempatan tenaga medis di desa mereka.
Kami berharap agar masalah ini segera ditangani. Jika ada petugas yang siap melayani, kami tidak perlu berjam-jam mengantar pasien keluar desa," harap salah satu tokoh masyarakat.
Masyarakat menekankan bahwa kondisi kesehatan yang baik sangat mendukung produktivitas dan kualitas hidup mereka. Di tengah tantangan yang dihadapi, mereka tetap optimis bahwa dengan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah, masalah kesehatan di Desa Nanga Layung dapat diatasi.
Nanga Layung adalah contoh nyata tantangan yang dihadapi oleh desa-desa terpencil dalam mendapatkan akses layanan kesehatan. Sebagai bagian dari masyarakat yang berhak atas pelayanan kesehatan yang memadai, mereka berharap agar suara mereka didengar dan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait, demi tercapainya kesejahteraan bersama.
Dengan perhatian yang tepat, semoga Desa Nanga Layung dapat segera memiliki tenaga kesehatan yang siap melayani dan mendukung kesehatan masyarakat.
(RS)
