OKI, transkapuas.com — Bursa calon Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memasuki fase panas. Menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) yang digelar di Kayuagung,hari ini Sabtu (18/4/2026), gelombang kandidat justru membengkak di detik-detik akhir.
Awalnya hanya diisi empat nama—HM Dja’far Soddiq, Farid Hadi Sasangko, Nada, Kanedi alias Tigor dan Meri SPD - kini bursa tersebut melebar menjadi tujuh kandidat.
Tiga nama baru muncul di injury time: Harimandani, Ayu Monaria, dan Suwarsono.
Lonjakan kandidat secara tiba-tiba ini memunculkan pertanyaan di kalangan internal: murni dinamika demokrasi atau bagian dari manuver politik jelang pemilihan?.
Sorotan tajam tertuju pada masuknya pasangan suami istri, Harimandani dan Ayu Monaria, dalam kontestasi yang sama. Kondisi ini dinilai tidak lazim dan memicu spekulasi adanya penguatan pengaruh berbasis keluarga dalam perebutan kursi ketua.
Bahkan, di internal kader muncul sindiran “dewan 46”—sebuah istilah yang menggambarkan membludaknya kandidat, melampaui jumlah kursi DPRD OKI yang hanya 45. Sindiran ini menjadi refleksi bahwa kontestasi tidak lagi sekadar kompetisi biasa, melainkan sarat kepentingan.
Sejumlah kader menilai kemunculan kandidat di menit akhir berpotensi mengacaukan peta dukungan yang sebelumnya mulai mengerucut. Tidak sedikit yang melihat fenomena ini sebagai strategi memecah suara atau mengganggu konsolidasi lawan politik.
“Kalau munculnya di awal, mungkin bisa disebut murni demokrasi. Tapi kalau di detik terakhir, tentu publik bisa menilai ada strategi tertentu,” ujar salah satu kader yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, ada pula pihak yang tetap melihatnya sebagai bentuk keterbukaan partai. H Sudrono Asnawi, kader PKB OKI, menegaskan bahwa banyaknya kandidat menunjukkan ruang demokrasi yang hidup.
“Ini bagian dari proses demokrasi. Siapa pun punya hak untuk maju,” katanya.
Namun di balik narasi demokrasi, realitas politik di lapangan menunjukkan kontestasi ini bukan sekadar adu gagasan.
Basis dukungan yang sudah terbentuk, baik di tingkat struktural maupun akar rumput, kini diuji oleh masuknya pemain baru dengan kepentingan masing-masing.
Muscab di Hotel Dinasti II, Kayuagung, diprediksi tidak akan berjalan datar. Selain menjadi forum formal pemilihan ketua, ajang ini berpotensi menjadi arena pertarungan pengaruh, strategi, bahkan kompromi politik.
Dengan komposisi kandidat yang semakin padat dan kompleks, satu hal menjadi jelas: perebutan kursi Ketua DPC PKB OKI bukan lagi sekadar soal siapa memimpin, tetapi siapa paling mampu mengendalikan arah kekuatan politik di tubuh partai ke depan.
( Mas Tris).
