Sintang (Kalbar), transkapuas.com - Rencana pembukaan dan penambahan kelas baru di SD SATAP yang berlokasi di Desa Pelimping, Kecamatan Kelam Permai pada tahun ajaran 2026/2027 menjadi perhatian bersama antara pemerintah desa, pihak sekolah, dan orang tua murid. Hal ini terungkap dalam pertemuan yang berlangsung hangat antara Kepala Desa Pelimping L. Pulamendi, Kepala Sekolah SDN 17 Lanjing Sucipto, serta perwakilan orang tua siswa di SDN 17 Lanjing pada Rabu, 15 April 2026.
Dalam penyampaiannya, Kepala Desa Pelimping, L. Pulamendi, menegaskan bahwa pihak desa telah melakukan koordinasi awal dengan SDN 17 Lanjing terkait kebutuhan pendidikan di wilayahnya. Ia menyampaikan harapan besar agar pembukaan kelas baru, khususnya kelas 1 serta kelanjutan kelas 2 di sekolah jarak jauh dapat segera direalisasikan.
"Kami dari pihak desa sangat mengharapkan dibukanya kelas baru untuk kelas 1, serta kelas 2 tetap dilanjutkan di SD jarak jauh. Bahkan, kami juga sudah mengusulkan pembangunan gedung baru, mengingat jarak ke sekolah induk cukup jauh dan menjadi kendala bagi masyarakat," ujarnya.
Perlu diketahui, SD jarak jauh yang beralamat di Desa Pelimping tersebut merupakan sekolah yang menginduk ke SDN 17 Lanjing yang berada di Desa Gemba Raya, Kecamatan Kelam Permai.
Keberadaan sekolah ini menjadi solusi bagi anak-anak di wilayah tersebut untuk tetap mendapatkan akses pendidikan tanpa harus menempuh jarak yang jauh ke sekolah induk.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah SDN 17 Lanjing, Sucipto, secara terbuka menyampaikan kondisi riil yang dihadapi pihak sekolah saat ini. Ia mengakui bahwa keterbatasan tenaga pengajar masih menjadi tantangan utama dalam mendukung rencana tersebut.
"Sejujurnya, guru yang ada di SDN 17 Lanjing masih kurang. Untuk mengajar ke SD SATAP di Desa Pelimping saat ini belum bisa dilakukan. Bahkan untuk pembelajaran di kelas 2 saja kami sudah mengalami kesulitan karena jumlah siswa mencapai 38 orang," jelasnya.
Meski demikian, Sucipto memastikan bahwa dari sisi anggaran, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) masih cukup untuk mendukung pembiayaan tenaga pengajar apabila nantinya dibutuhkan.
"Kalau untuk dana BOS, masih cukup untuk pembayaran guru yang nantinya ditempatkan di SD SATAP," tambahnya.Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas pihak, khususnya dengan Dinas Pendidikan, agar rencana pembukaan kelas baru dapat berjalan sesuai regulasi dan mendapatkan dukungan maksimal.
Sebagai solusi sementara, pihak sekolah merencanakan sistem pembelajaran bergantian, di mana kelas 1 akan belajar pada pukul 07.00 hingga 10.00, kemudian dilanjutkan kelas 2 pada pukul 11.00. Langkah ini diambil sebagai upaya mengatasi keterbatasan tenaga pengajar.
Sucipto juga menegaskan komitmen pihak sekolah untuk tetap membuka kelas 2 pada tahun ajaran baru, berapapun jumlah siswa yang ada. Selain itu, pihaknya akan berupaya meningkatkan fasilitas pendukung, termasuk penyediaan instalasi listrik di lokasi sekolah.
Sementara itu, orang tua murid, K. Robenson, berharap rencana tersebut dapat segera terealisasi agar anak-anak tidak perlu berpindah sekolah dan tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak di desa mereka.
Pertemuan ini menjadi bukti adanya sinergi antara pemerintah desa, pihak sekolah, dan masyarakat dalam memperjuangkan pemerataan pendidikan. Diharapkan, melalui koordinasi berkelanjutan dengan Dinas Pendidikan, rencana ini dapat segera diwujudkan demi masa depan generasi muda di Desa Pelimping.
Kolaborasi semua pihak menjadi kunci dalam menghadirkan pendidikan yang merata, berkualitas, dan menjangkau hingga ke wilayah terpencil.(RS)
