![]() |
| Foto: Pendeta Maikel Roki Mawunt saat di Wawancara Wartawan (30 Maret 2026) |
Bengkayang,transkapuas.com-Peran gereja dinilai strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, melalui penguatan nilai moral, sosial, dan budaya di tengah masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam rencana kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Tantangan dan Peluang Gereja Masa Kini dalam Menyikapi Dinamika Situasi Kamtibmas di Wilayah Kabupaten Bengkayang” yang akan melibatkan lintas sektor.
Pembicara dalam kegiatan tersebut, Pendeta Maikel Roki Mawuntu, menegaskan gereja memiliki peran penting sebagai garda moral dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, termasuk tantangan keamanan di kawasan perbatasan.
“Gereja pada prinsipnya selalu berada di garis depan dalam menyampaikan pesan-pesan kedamaian kepada umat, agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh situasi yang dapat mengganggu stabilitas,” ujarnya di Bengkayang, Senin (30/3).
Ia mengatakan, keberadaan Kabupaten Bengkayang sebagai daerah perbatasan menuntut adanya sinergi yang kuat antara seluruh elemen, termasuk gereja, dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Menurut dia, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam membina kehidupan masyarakat yang harmonis, serta memperkuat ketahanan sosial di tengah berbagai pengaruh lintas negara.
“Kondisi perbatasan memiliki tantangan tersendiri, baik dari sisi sosial, budaya, maupun keamanan. Di sinilah gereja hadir untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan menjaga kondusivitas daerah,” katanya.
FGD tersebut direncanakan menjadi wadah strategis untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi gereja dalam mendukung terciptanya kamtibmas yang aman dan kondusif.
Melalui forum itu, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara gereja, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas wilayah.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat diimplementasikan secara bersama dalam menjaga keamanan, khususnya di wilayah perbatasan.
“Harapannya, FGD ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi mampu melahirkan langkah nyata yang berdampak langsung bagi terciptanya situasi yang aman dan kondusif di Bengkayang,” ujarnya.
Ia menambahkan, gereja memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memicu gangguan kamtibmas.
Rencana pelaksanaan FGD tersebut saat ini tengah dimatangkan, dengan penentuan waktu yang akan disesuaikan bersama para pihak terkait.
Pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya bersama menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan.(Robin)
