![]() |
| Caption: Benyamin, S.Sos,.Kabid BPBD kabupaten Sintang |
Sintang (Kalbar), transkapuas.com - Di Indonesia, musim kemarau biasanya terjadi antara April hingga September, tetapi waktu dan intensitasnya dapat berbeda antar daerah karena pengaruh iklim lokal, fenomena global seperti El NiΓ±o, serta kondisi geografis. Dampak utama musim kemarau meliputi kekeringan pada lahan pertanian, penurunan pasokan air permukiman, peningkatan debu dan polusi udara, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemerintah daerah dan lembaga terkait biasanya meningkatkan kegiatan pemantauan cuaca, kesiapsiagaan kebakaran, sosialisasi pencegahan kebakaran, serta pembentukan dan pelatihan relawan tanggap bencana selama musim kemarau.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Benyamin, S.Sos, menjelaskan kesiapan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada wartawan TransKapuas.com pada Kamis, 26 Maret 2026. Menurutnya, BPBD terus memantau kondisi lapangan berdasarkan informasi dari BMKG, BPBD pusat, dan BPBD provinsi untuk menentukan apakah perlu menetapkan status siaga darurat.
"Kami lagi monitor kondisi kemarau ini, apakah bisa cepat menentukan status siaga darurat penanganan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Jadi kita masih monitor kemungkinan kalau beberapa hari ke depan atau seminggu ini masih belum hujan kita sudah menetapkan statusnya," ujar Benyamin.
Benyamin menegaskan bahwa 14 kecamatan di Kabupaten Sintang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan. Oleh sebab itu, kesiapan posko dan peralatan menjadi fokus utama.
"Kesiapan penanganan posko yang jelas untuk ke depannya, kondisinya makin darurat posko peralatannya saya rasa sudah siap baik BPBD maupun instansi terkait," katanya.
Jika kondisi memburuk hingga darurat, Benyamin menyampaikan rencana patroli gabungan bersama tim Satgas. "Apabila kondisinya darurat pasti ada patroli bersama dengan tim Satgas, dan nanti dibentuk Satgas siaga maupun kalau statusnya naik darurat Satgas bersama TNI/Polri dan instansi terkait," jelasnya.
Hingga saat ini, BPBD belum mengambil langkah sosialisasi masif karena status darurat belum ditetapkan. Fokus sementara adalah pembentukan relawan tangguh bencana di tingkat desa dan kelurahan. Benyamin menyebutkan program ini penting untuk mempercepat respons saat bencana terjadi. "Kita masih fokus terbentuknya relawan tangguh bencana baik Desa/Kelurahan. Dari lebih 300 desa ditambah belasan kelurahan, progresnya hampir 20 desa yang terbentuk. Kita fokus di sini dulu biar koordinasinya lebih cepat nanti ke depan," ujarnya.
Mekanisme pelaporan juga telah disiapkan. Desa yang mengalami kebakaran lahan direkomendasikan melaporkan ke kecamatan, kemudian camat meneruskan laporan ke BPBD. Tindak lanjut bantuan akan dibicarakan bersama Satgas sesuai dampak yang terjadi. "Mekanisme bantuannya tergantung dampak yang terjadi nanti akan dibicarakan dengan Satgas, misalnya Satgas siaga darurat atau Satgas darurat penanganan bencana alam akibat kebakaran hutan dan lahan," kata Benyamin.
Koordinasi penanganan pada tingkat status darurat melibatkan TNI/Polri, Dinas Kehutanan, UPT-UPT Kehutanan, pemadam kebakaran, serta OPD terkait termasuk Basarnas. Namun, Benyamin juga mengakui keterbatasan anggaran tahun ini karena adanya pemangkasan.
"Kalau untuk statusnya siaga-siaga masih bisa di-handle sementara, tapi kalau sudah meluas otomatis anggarannya tidak cukup. Nanti tinggal di kondisi darurat biasanya ada kebijakan dari Bupati untuk penambahan anggaran," jelasnya.
Di sisi pembinaan, BPBD telah mengadakan simulasi dan pelatihan, termasuk kerja sama dengan TNI. "Sementara untuk simulasi dan pelatihan, ujung tahun kemarin dan awal tahun 2025 sudah beberapa kali mengadakan pelatihan di beberapa titik, seperti di Danau di Pal dan di Jemelak, serta simulasi dengan TNI (Korem) akhir tahun kemarin," tutup Benyamin.
Pernyataan ini menunjukkan upaya BPBD Sintang memperkuat kesiapsiagaan meski menghadapi keterbatasan anggaran, demi melindungi masyarakat dari ancaman karhutla yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.
Publish: (RS)
