![]() |
| Caption : Kepala BPS OKI saat memberikan pemaparan tentang kondisi inflasi OKI. |
OKI, transkapuas.com -Pagi itu, denyut pasar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan,berjalan seperti biasa. Pedagang daging ayam masih melayani pembeli, ikan patin tersusun rapi di lapak.
Sementara warga datang silih berganti mencari kebutuhan harian. Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, ada satu kabar baik yang diam-diam bekerja: harga-harga relatif terkendali.
Pada Maret 2026, laju inflasi di OKI tercatat sebesar 2,74 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini bukan sekadar statistik.
Ia menjadi penanda bahwa tekanan harga di daerah ini termasuk yang paling rendah di Sumatera Selatan—bahkan berada di bawah rata-rata provinsi yang mencapai 3,09 persen.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) OKI menunjukkan bahwa kestabilan ini bukan terjadi secara kebetulan. Ada kombinasi antara pasokan yang terjaga, distribusi yang relatif lancar, serta intervensi pemerintah daerah yang berjalan konsisten.
Kepala BPS OKI, Muhammad Dedy, menggambarkan kondisi ini sebagai sinyal positif bagi ekonomi daerah. Menurutnya, meskipun beberapa komoditas seperti emas perhiasan dan tarif listrik masih memberi tekanan, secara umum harga-harga masih dalam kendali.
Namun, cerita inflasi tidak hanya berbicara tentang angka. Ia juga menyentuh keseharian masyarakat. Ketika harga stabil, daya beli tidak tergerus terlalu dalam. Rumah tangga masih bisa mengatur pengeluaran, dan pelaku usaha kecil tetap memiliki ruang bernapas.
Di sisi lain, dinamika tetap bergerak. Secara bulanan, inflasi Maret tercatat 0,36 persen. Angka ini tergolong moderat, dengan komoditas seperti daging ayam ras, bensin, dan ikan patin ikut menyumbang kenaikan. Fluktuasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas harga bukan sesuatu yang datang tanpa usaha.
Sekretaris Daerah OKI, Asmar Wijaya, melihat capaian ini sebagai hasil kerja bersama. Pemerintah daerah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dinilai berhasil menjaga ritme pengendalian harga, terutama melalui distribusi pangan dan program pasar murah.
Upaya tersebut, bagi sebagian masyarakat, mungkin tidak selalu terlihat langsung. Namun dampaknya terasa—terutama saat harga kebutuhan pokok tidak melonjak tajam, bahkan di tengah momentum yang biasanya rawan kenaikan.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan. Komoditas bergejolak dan kebijakan energi masih menjadi faktor yang dapat mendorong inflasi sewaktu-waktu. Karena itu, penguatan koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan tetap terjaga.
Di tengah ketidakpastian ekonomi yang kerap datang tanpa aba-aba, kondisi inflasi yang melandai di OKI memberi satu hal penting:
ruang bernapas. Bagi pemerintah, ini adalah indikator keberhasilan kebijakan. Bagi masyarakat, ini adalah harapan agar kebutuhan hidup tetap terjangkau.
Dan di pasar-pasar yang terus hidup setiap pagi, stabilitas itu menjelma dalam bentuk paling sederhana—harga yang tidak melonjak, dan kehidupan yang tetap berjalan.
( Mas Tris).
