Notification

×

BPKAD OKI

BPKAD OKI

Transkapuas

Transkapuas

VT

VT

Sampah Jadi Rupiah, Pemkab OKI dan PKK Luncurkan Bank Sampah Lestari

Sabtu, 28 Maret 2026 | 06.21.00 WIB Last Updated 2026-03-27T23:21:51Z
Caption : Bupati OKI H Muchendi Mahzareki berdasarkan ketua Tim penggerak PKK OKI Hj.Ike Muchendi saat meluncurkan bank sampah Lestari.


OKI, transkapuas.com — Di tengah meningkatnya persoalan sampah yang kian mendesak, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan,bersama Tim Penggerak PKK meluncurkan program Bank Sampah PKK Lestari sebagai upaya mengubah sampah rumah tangga menjadi bernilai ekonomi sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.


Program ini diluncurkan di Aula PKK Kabupaten OKI, Jumat (27/3/2026), dan menjadi bagian dari langkah awal menghadapi kondisi yang oleh pemerintah daerah disebut sebagai “darurat sampah”.


Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai isu biasa, melainkan tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.


“Kita berada dalam kondisi darurat sampah. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Harus ada gerakan kolektif,” ujar Muchendi.


Ia menekankan, perubahan harus dimulai dari lingkungan internal pemerintah dan organisasi sebagai contoh nyata sebelum menyasar masyarakat luas.


“Kalau ingin gerakan ini besar, mulainya dari kita sendiri—instansi dan organisasi. Dari situ akan menular,” katanya.


Dari Kumpul-Buang ke Pilah-Kelola.



Kepala Dinas Lingkungan Hidup OKI, Muktaqid, menjelaskan bahwa selama ini pola pengelolaan sampah masih didominasi pendekatan lama: kumpul, angkut, lalu buang ke tempat pembuangan akhir (TPA).


Melalui program bank sampah, pola tersebut diubah menjadi lebih berkelanjutan: kumpul, pilah, angkut, dan hanya residu yang dibuang.


“Perubahan ini penting agar beban TPA bisa ditekan. Kalau tidak, kapasitas TPA akan terus terbebani,” ujarnya.


Konsep bank sampah sendiri mengadopsi sistem seperti perbankan, di mana masyarakat menjadi “nasabah” yang menyetor sampah terpilah. Sampah bernilai ekonomis—seperti plastik, kertas, dan logam—ditimbang, dicatat, dan dapat ditukar menjadi uang atau manfaat lainnya.


PKK Dorong Partisipasi Publik.


Ketua Tim Penggerak PKK OKI, Ike Muchendi, menegaskan bahwa program ini tidak hanya diperuntukkan bagi kader PKK, melainkan terbuka untuk seluruh masyarakat.


“Kami ingin masyarakat ikut menjadi nasabah bank sampah. Ini bukan sekadar program kebersihan, tapi gerakan bersama menjaga lingkungan,” ujarnya.


Menurut Ike, kegiatan penimbangan sampah secara rutin juga diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat nilai gotong royong di tengah masyarakat.


“Selain menjaga kebersihan, ini juga memberi nilai tambah ekonomi bagi keluarga,” katanya.


Skema dan Jadwal Layanan.


Layanan penukaran sampah dijadwalkan secara rutin, yakni:


Kantor PKK Kabupaten OKI: setiap Selasa dan Kamis, pukul 10.00–12.00 WIB.


Dinas Lingkungan Hidup OKI: setiap Jumat, pukul 09.00–11.30 WIB


Pemerintah daerah berharap skema ini dapat memudahkan akses masyarakat untuk berpartisipasi sekaligus membangun kebiasaan baru dalam memilah sampah dari sumbernya.



Tantangan dan Harapan


Meski demikian, keberhasilan program bank sampah sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan partisipasi masyarakat. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa program serupa kerap menghadapi kendala pada keberlanjutan, minimnya edukasi, hingga rendahnya disiplin dalam memilah sampah.


Karena itu, Pemerintah Kabupaten OKI. menargetkan Bank Sampah PKK Lestari dapat menjadi percontohan yang direplikasi di berbagai tingkatan, mulai dari organisasi perangkat daerah, sekolah, desa, hingga kecamatan.


Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat slogan:


“Cerdas Kelola Sampah, Keluarga Lestari.”


( Mas Tris)

×
Berita Terbaru Update