![]() |
| Fhoto : Kepala desa Rengas Abang Agus Suseno ( baju kuning kaki), Kepala dinas Kominfo Adi Yanto (pakai topi merah. ), manager Telkom Nasution dan camat Air Sugihan Ardiles. |
OKI, transkapuas.com — Perkara sinyal di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) , Sumatera Selatan,bukan sekadar soal lambatnya mengunduh video.
Di wilayah yang dikepung rawa dan perairan ini, internet adalah urat nadi birokrasi desa, layanan publik, hingga denyut ekonomi warga yang selama bertahun-tahun tersendat.
Ambisi digitalisasi itu kini mulai menemukan titik terang. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membentangkan kabel serat optik sepanjang 73 kilometer untuk membebaskan 20 menara BTS dari ketergantungan transmisi Radio IP yang dinilai sudah tak lagi memadai.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika OKI, Adi Yanto, mengakui kondisi jaringan di Air Sugihan telah berada pada titik jenuh. Berdasarkan data Telkomsel, sebanyak 20 BTS di kecamatan tersebut mengalami over capacity atau kelebihan beban, yang berdampak pada sinyal lambat dan kerap terputus.
“Kondisinya sudah jenuh. Melalui serat optik, diharapkan layanan internet semakin cepat, minim hambatan, dan mengurangi buffering maupun lag,” ujar Adi saat meninjau pembangunan jaringan, Selasa (10/2/2026).
Dari Radio ke Fiber: Lompatan Kapasitas
Selama ini, transmisi radio menjadi tulang punggung konektivitas di kawasan perairan. Namun teknologi tersebut rentan terhadap gangguan cuaca serta memiliki keterbatasan kapasitas. Fiber optik menawarkan stabilitas dan bandwidth yang jauh lebih besar.
Bagi kawasan seperti Air Sugihan, peralihan ini bukan sekadar peningkatan teknis, tetapi lompatan struktural. Stabilitas transmisi antar-BTS berpotensi memperlancar layanan administrasi desa berbasis digital, akses pendidikan daring, hingga transaksi ekonomi masyarakat.
Namun di balik optimisme itu, persoalan konektivitas OKI belum sepenuhnya terurai. Masih terdapat sekitar 47 titik blank spot serta puluhan desa dengan sinyal timbul-tenggelam. Geografi rawa yang luas kerap menjadi tantangan klasik ekspansi operator.
Jangan Sekadar Seremoni Proyek
Kepala Desa Rengas Abang, Agus Suseno, mengingatkan agar penguatan sinyal tidak berhenti pada seremoni pembangunan. Ia menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat di setiap tahapan pekerjaan.
“Sinyal kuat itu kebutuhan untuk komunikasi dan layanan desa. Tapi sosialisasi tetap keharusan agar masyarakat mendukung penuh,” katanya.
Pernyataan itu relevan. Di wilayah dengan aktivitas perkebunan dan alat berat yang intens, bentangan kabel sepanjang 73 kilometer di lahan rawa sangat rentan terhadap gangguan fisik. Faktor alam seperti genangan, pergeseran tanah, hingga potensi kerusakan akibat aktivitas manusia menjadi risiko nyata.
Tanpa sistem pemeliharaan responsif dari operator, infrastruktur mahal ini bisa berubah menjadi titik gangguan baru ketika terjadi kerusakan.
Tiga Langkah Strategis yang Mendesak
Agar fiberisasi tidak berhenti sebagai proyek teknis, ada setidaknya tiga langkah kebijakan yang mendesak dilakukan:
Pertama, penyelarasan regulasi dan insentif.
Pemkab OKI perlu memastikan kemudahan perizinan, sinkronisasi data wilayah prioritas, serta membuka peluang skema dukungan lahan desa. Insentif ini menjadi daya tarik bagi operator untuk masuk ke wilayah yang secara bisnis kurang menguntungkan.
Kedua, perlindungan aset berbasis komunitas.
Infrastruktur digital perlu diposisikan sebagai aset vital desa. Dengan demikian, masyarakat terdorong ikut menjaga instalasi dari vandalisme atau pencurian.
Ketiga, audit kualitas sinyal berkala.
Dinas Kominfo harus berperan sebagai pengawas aktif. Evaluasi berkala perlu memastikan peningkatan infrastruktur benar-benar berdampak pada peningkatan bandwidth di tingkat pengguna, bukan hanya klaim teknis di atas kertas.
Pertaruhan Sinergi
Adi Yanto menegaskan, percepatan konektivitas tidak bisa berjalan sendiri.
“Digitalisasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, operator, dan masyarakat. Tanpa koordinasi yang baik, percepatan konektivitas hanya akan menjadi jargon,” tegasnya.
Sementara itu, Manager Telkom Infrastruktur Area Sumbagsel, Nasution, menjelaskan pembangunan jaringan sepanjang 73 kilometer ini merupakan bagian dari penguatan infrastruktur digital di Sumatera Selatan dan akan mendukung fiberisasi sekitar 20 BTS eksisting.
“Proyek ini sejalan dengan penguatan jaringan 4G untuk meningkatkan kualitas layanan mobile broadband,” ujar Nasution.
Ia mengakui tantangan utama adalah kondisi geografis perairan dan rawa yang luas.
“Tantangan geografis memaksa kami menarik kabel cukup jauh dari Muara Padang dan Banyuasin mendekati BTS Air Sugihan,” tandasnya.
Fiber optik yang membentang di atas rawa Air Sugihan kini menjadi simbol harapan sekaligus ujian. Jika berhasil dirawat dan diperluas, ia bisa menjadi fondasi transformasi digital wilayah perairan. Namun jika gagal dijaga dan diawasi, kabel-kabel itu hanya akan menjadi proyek yang selesai di laporan, tetapi belum tentu selesai di kehidupan warga.
( Mas Tris).
