![]() |
| Caption : Bupati OKI H.Muchendi Mahzareki saat meninjau banjir . Selasa ( 13/1/2026). |
OKI, transkapuas.com — Banjir yang kembali melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, melumpuhkan sekitar 6.000 hektare sawah di kawasan sentra pangan dan menempatkan produksi beras daerah ini di ujung tanduk. Pemerintah daerah menyalurkan 142,7 ton benih padi sebagai langkah darurat untuk menahan penurunan produksi, meski keberhasilan tanam ulang masih sepenuhnya bergantung pada cepat atau lambatnya air surut.
Genangan yang berulang di wilayah pertanian OKI menyingkap kerentanan sistem pangan daerah terhadap perubahan iklim dan lemahnya pengendalian tata air. Bantuan benih menjadi penopang jangka pendek, tetapi tanpa perbaikan sistem irigasi dan pengendalian banjir, ancaman gagal tanam diperkirakan akan terus berulang pada musim-musim berikutnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, banjir merendam lahan pertanian di sejumlah kecamatan. Wilayah terparah berada di Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya, dua kawasan yang selama ini menjadi penyangga utama produksi padi OKI. Selain itu, genangan juga terjadi di Jejawi dan Air Sugihan, meski dengan skala lebih terbatas.
Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki menyebut penyaluran benih sebagai langkah darurat untuk menjaga keberlanjutan musim tanam petani. Namun, ia mengakui bahwa keberhasilan program ini tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah daerah.
“Kuncinya air harus segera surut. Kalau lahan masih tergenang, benih tidak bisa dimanfaatkan,” ujar Muchendi saat meninjau lokasi banjir di Lempuing, Selasa (13/1/2026).
Muchendi meminta Dinas Pertanian mempercepat pendampingan teknis kepada petani, terutama dalam persiapan tanam ulang dan penyesuaian pola tanam. Pemerintah daerah berharap langkah ini mampu mencegah keterlambatan musim tanam yang dapat berdampak pada penurunan produksi beras tahunan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura OKI, Alexsander Bustomi, mengatakan sebagian besar lahan yang terdampak sebelumnya telah mencapai indeks pertanaman (IP) 200, bahkan IP 300. Kondisi tersebut dinilai masih memberi ruang bagi petani untuk mengejar ketertinggalan musim, meski waktu tanam menjadi lebih sempit.
“Kami perkirakan produksi masih bisa dipertahankan, walaupun ada perlambatan tanam,” kata Alexsander.
Namun, bantuan benih yang tersedia saat ini baru mencukupi kebutuhan petani di Kecamatan Lempuing. Pemerintah daerah masih mengajukan tambahan bantuan melalui Cadangan Benih Nasional (CBN) Kementerian Pertanian. Pengajuan tersebut mensyaratkan verifikasi lahan gagal panen atau puso oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).
Di tingkat petani, bantuan benih dipandang sebagai penyelamat sementara di tengah tekanan ekonomi akibat gagal panen. Sumarno, petani Desa Sumber Makmur, Kecamatan Lempuing, mengatakan banjir membuat padi yang ditanam sebelumnya gagal dipanen.
“Kalau harus beli benih lagi, kami berat. Dengan bantuan ini, kami bisa langsung tanam begitu air surut,” ujarnya.
Petani lainnya, Suyatno, berharap pemerintah tidak hanya fokus pada distribusi benih, tetapi juga pengawalan teknis di lapangan. “Kami ingin tanam secepatnya supaya tidak terlalu tertinggal musim,” katanya.
Banjir yang berulang di sentra pangan OKI menjadi pengingat bahwa penanganan darurat perlu diiringi pembenahan struktural. Tanpa pengendalian banjir dan perbaikan tata air, produksi beras daerah ini akan terus berada dalam bayang-bayang risiko setiap musim hujan tiba.
( Mas Tris)
