Notification

×

Transkapuas

Transkapuas

Oki 3

Oki 3

Oki 2

Oki 2

Oki 1

Oki 1

BPKAD

BPKAD

Banjir Berulang Rendam Desa Margo Bakti, Mitigasi Jangka Panjang Dinilai Lemah

Jumat, 09 Januari 2026 | 07.07.00 WIB Last Updated 2026-01-09T00:07:37Z
Caption : Kondisi desa Margo bakti kecamatan Mesuji OKI,akibat hujan tinggi setiap hari , kamis (8/1/2026).


OKI, transkapuas.com – Curah hujan tinggi kembali memicu banjir berulang yang merendam Desa Margo Bakti, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.Peristiwa ini menegaskan lemahnya sistem mitigasi bencana di wilayah dataran rendah yang berada di sekitar aliran anak Sungai Mesuji.


Berdasarkan pantauan di lapangan, ketinggian air mencapai sekitar 50 hingga 80 sentimeter.Genangan merendam rumah warga dan menyebabkan aktivitas masyarakat terhenti sementara. Meski air relatif cepat surut, banjir yang terjadi secara berulang menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi warga setempat.


Tokoh masyarakat Kecamatan Mesuji, HM Toufik M.Si, menyebut kondisi geografis Desa Margo Bakti menjadi faktor utama terjadinya banjir. Desa tersebut berada di wilayah dataran rendah dan berdekatan langsung dengan aliran sungai, sehingga hujan deras dengan durasi panjang hampir selalu berujung banjir.


“Kalau hujan turun sehari semalam, banjir pasti datang. Ini bukan kejadian baru, tapi sudah berulang dari tahun ke tahun,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).


Menurut Toufik, upaya penanganan banjir selama ini masih bersifat reaktif dan belum menyentuh solusi mitigasi jangka panjang. Meski pemerintah daerah telah melakukan normalisasi sungai, langkah tersebut dinilai belum mampu menekan risiko banjir secara signifikan.


“Normalisasi sungai memang sudah dilakukan, tetapi belum menyelesaikan masalah. Kontur wilayah yang rendah membuat air tetap meluap ke permukiman,” jelas mantan anggota DPRD OKI tersebut.


Ia mendorong Pemerintah Kabupaten OKI segera menyusun langkah mitigasi struktural dan nonstruktural. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembangunan kolam retensi atau tampungan air skala besar untuk menahan limpasan air hujan.


“Jika ada kolam retensi, air hujan bisa ditampung terlebih dahulu dan tidak langsung masuk ke permukiman. Ini solusi jangka panjang,” tegasnya.


Selain itu, Toufik juga menekankan pentingnya pemetaan wilayah rawan banjir, penerapan sistem peringatan dini berbasis curah hujan, serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat guna meminimalkan dampak banjir.


Sementara itu, sebagai bentuk solidaritas antar desa, para kepala desa se-Kecamatan Mesuji melalui Forum Kades telah menyalurkan bantuan dana untuk memenuhi kebutuhan darurat warga Desa Margo Bakti. Namun bantuan tersebut dinilai masih bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan banjir yang terjadi setiap tahun.


(Mas Tris)

×
Berita Terbaru Update