OKI, transkapuas.com – Terpilihnya Farid Hadi Sasangko (FHS) sebagai Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) periode 2026–2031 melalui keputusan Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB dinilai berpotensi mengubah konfigurasi politik di Bumi Bende Seguguk.
Penunjukan FHS sebagai nahkoda baru PKB OKI cukup menyita perhatian berbagai kalangan. Pasalnya, estafet kepemimpinan partai kini berada di tangan figur baru setelah masa kepemimpinan HM Dja'far Shodiq, yang selama ini dinilai berhasil membawa PKB menjadi salah satu kekuatan politik utama di Kabupaten OKI.
Sebelum keputusan DPP PKB diterbitkan, proses penjaringan calon Ketua DPC PKB OKI terlebih dahulu digelar di Hotel Dinas II Kayuagung. Kegiatan tersebut dipimpin oleh perwakilan DPW PKB Sumatera Selatan,dan DPP PKB,Muhammad Halim atau yang lebih akrab disapa Gus Halim. Dalam penjaringan itu, tercatat sedikitnya delapan kandidat mengikuti tahapan seleksi untuk memperebutkan rekomendasi sebagai Ketua DPC PKB OKI periode 2026–2031.
Proses penjaringan tersebut menjadi perhatian kader dan pengamat politik karena menghadirkan sejumlah nama yang dinilai memiliki kapasitas dan basis dukungan masing-masing. Dinamika yang berkembang saat itu bahkan memunculkan berbagai spekulasi mengenai figur yang akan mendapatkan mandat dari DPP PKB. Namun pada akhirnya, DPP PKB menetapkan Farid Hadi Sasangko sebagai Ketua DPC PKB OKI untuk lima tahun ke depan.
Meski tidak lagi menjabat sebagai Ketua DPC PKB OKI, HM Dja'far Shodiq tetap menjadi bagian penting dalam struktur partai. Dalam susunan kepengurusan terbaru, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Syuro PKB Kabupaten OKI, posisi strategis yang memiliki peran memberikan arahan, pertimbangan, serta nasihat politik bagi partai.
Di bawah kepemimpinan Dja'far Shodiq, PKB mencatatkan capaian politik yang signifikan. Pada Pemilu Legislatif 2019, partai berlambang bola dunia itu berhasil meraih tujuh kursi di DPRD OKI dan mengantarkan kadernya menduduki kursi Ketua DPRD OKI. Raihan tersebut menjadikan PKB sebagai salah satu partai yang diperhitungkan dalam setiap kontestasi politik daerah.
Sementara itu, Farid Hadi Sasangko menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan DPP PKB kepada dirinya untuk memimpin DPC PKB OKI periode 2026–2031. Ia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan capaian positif yang telah dibangun kepengurusan sebelumnya sekaligus memperkuat konsolidasi partai hingga ke tingkat akar rumput.
"Kepercayaan ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya mengucapkan terima kasih kepada DPP PKB, DPW PKB Sumsel, para kader, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan. Ke depan, fokus kami adalah menjaga soliditas partai, memperkuat komunikasi dengan masyarakat, dan melanjutkan perjuangan politik PKB demi kepentingan rakyat," ujar FHS.Jum'at (12/06/2026).
Menurut FHS, keberhasilan PKB selama ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh kader dan pengurus partai. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen partai untuk tetap menjaga persatuan dan kebersamaan dalam menghadapi berbagai agenda politik mendatang.
"Kita harus tetap kompak dan menjaga semangat kebersamaan. Kehadiran HM Dja'far Shodiq sebagai Ketua Dewan Syuro tentu menjadi kekuatan tersendiri bagi PKB OKI. Pengalaman dan kapasitas beliau akan menjadi modal penting dalam membimbing serta mengawal perjalanan partai ke depan," katanya.
Pengamat politik lokal, Edison Aslan, menilai munculnya FHS sebagai ketua baru tidak sekadar pergantian kepemimpinan rutin di tubuh partai. Menurutnya, kepemimpinan baru ini berpotensi melahirkan konfigurasi dan poros politik baru menjelang berbagai agenda politik mendatang di Kabupaten OKI.
"Meski FHS masih memiliki hubungan keluarga sebagai keponakan HM Dja'far Shodiq, pergantian kepemimpinan tetap membawa peluang munculnya strategi dan pendekatan politik yang berbeda. Ini tentu akan memengaruhi dinamika politik daerah," ujar Edison.
Ia menambahkan, FHS menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian politik yang telah dibangun pendahulunya. Di sisi lain, kepemimpinan baru juga membuka ruang terjadinya reposisi kekuatan politik, baik di internal PKB maupun dalam hubungan dengan partai-partai lain.
Menurut Edison, kombinasi antara kepemimpinan FHS di tingkat operasional partai dan HM Dja'far Shodiq sebagai Ketua Dewan Syuro berpotensi menciptakan keseimbangan antara regenerasi dan pengalaman politik.
"Pergantian ketua tentu membawa gaya kepemimpinan dan strategi politik yang berbeda. Namun dengan tetap hadirnya HM Dja'far Shodiq di Dewan Syuro, kesinambungan pengalaman dan regenerasi kepemimpinan dapat berjalan beriringan. Ini menarik untuk dicermati karena PKB merupakan salah satu partai dengan basis suara yang cukup kuat di OKI," katanya.
Terpilihnya FHS dinilai menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan politik PKB di Kabupaten OKI. Selain menandai proses regenerasi kepemimpinan, keputusan tersebut juga membuka peluang lahirnya strategi dan pendekatan politik baru di tubuh partai.
Dengan kepengurusan baru yang akan memimpin hingga 2031, berbagai kalangan kini menantikan langkah-langkah strategis yang akan diambil untuk menjaga eksistensi partai sekaligus menghadapi dinamika politik daerah yang terus berkembang. Dalam konteks yang lebih luas, pergantian kepemimpinan di tubuh PKB juga berpotensi memengaruhi peta koalisi dan arah dukungan politik menjelang agenda-agenda politik mendatang.
Perpaduan antara regenerasi kepemimpinan melalui Farid Hadi Sasangko dan pengalaman politik HM Dja'far Shodiq sebagai Ketua Dewan Syuro membuat PKB OKI diperkirakan tetap menjadi salah satu kekuatan politik yang patut diperhitungkan di Bumi Bende Seguguk. Banyak pihak kini menantikan bagaimana kepemimpinan baru ini akan membawa PKB menghadapi tantangan politik sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat yang selama ini menjadi basis kekuatan partai.
( Mas Tris)
