![]() |
| Caption: Anak sekolah, warga, dan harapan semua bergantung pada jembatan yang kini telah putus |
Sintang, (Kalbar), transkapuas.com - Kondisi memprihatinkan dialami masyarakat Dusun Belungkak, Desa Bengkuang, Kecamatan Kelam Permai. Jembatan gantung yang selama ini menjadi akses utama warga kini dilaporkan putus dan tidak dapat lagi dilewati. Situasi tersebut semakin berbahaya karena derasnya arus Sungai Lebang yang berada di bawah jembatan, sehingga warga tidak memiliki alternatif penyeberangan yang aman.
Jembatan tersebut selama ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat. Selain menghubungkan Dusun Belungkak dengan pusat Desa Bengkuang, akses ini juga menjadi jalur penting menuju Kecamatan Kelam Permai hingga ke Kabupaten Sintang. Bahkan, setiap harinya, anak-anak sekolah dari dusun tersebut harus melewati jembatan itu untuk menuju sekolah dasar dan menengah pertama.
Kepala Desa Bengkuang, Dimanto, pada Sabtu, 2 Mei 2026, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan tersebut sebenarnya telah direncanakan. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama yang menyebabkan penanganan belum dapat dilakukan secara maksimal.
"Jembatan yang berada di Dusun Belungkak itu ada masuk kegiatan tersebut, cuma kalau menurut mereka yang menghitung anggaran tersebut tidak mencukupi untuk pembangunan jembatan tersebut karena anggaran nya terbatas hanya ada seratus juta saja. Itupun masih direvisi lagi karena terkendala anggaran jadi direvisi lagi disesuaikan anggaran tersebut," jelas Dimanto.
Ia menambahkan bahwa sumber anggaran berasal dari dana pokok pikiran (pokir) dewan, namun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk membangun jembatan secara utuh. Padahal, pihak pelaksana telah ditunjuk dan kontrak kerja juga sudah dibuat, namun pelaksanaan terpaksa tertunda akibat penyesuaian anggaran.
"Mohon dengan keterbatasan dana yang ada, karena dana pokir dewan dari Bang Toni, kami berharap pihak Pemerintah Kabupaten Sintang dapat menambah anggaran tersebut, baik melalui Bupati maupun Wakil Bupati, agar pembangunan jembatan ini bisa diselesaikan pada tahun 2026," tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa kenaikan harga bahan, terutama dipengaruhi oleh perubahan harga minyak, turut berdampak pada membengkaknya kebutuhan biaya, sehingga rencana awal harus direvisi kembali.
Dengan kondisi jembatan yang sudah putus dan arus sungai yang deras, masyarakat kini menghadapi risiko besar dalam beraktivitas. Warga sangat berharap adanya langkah cepat dan tanggap dari Pemerintah Kabupaten Sintang, termasuk melalui penambahan anggaran pada ABT tahun 2026, agar pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan demi keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat. Mereka menilai, pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak demi kelancaran aktivitas, keselamatan warga, serta keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.(RS)
