Oleh Trisno Okonisator
Ketika hubungan berakhir tanpa percakapan, media sosial mengambil alih peran—bukan sebagai penyelesai, melainkan pembentuk persepsi.
Cinta, hari ini, tidak hanya dijalani—ia dipertontonkan. Media sosial menjelma panggung, tempat relasi dipamerkan sekaligus dipertaruhkan. Apa yang dahulu selesai dalam ruang privat, kini bergeser ke beranda: terbuka, multitafsir, dan rentan dihakimi.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Laporan menunjukkan tingginya intensitas penggunaan media sosial di Indonesia. Dalam ruang yang terus aktif, batas antara privat dan publik menjadi kabur. Relasi personal pun ikut terseret ke dalam arus itu.
Kisah yang muncul kemudian kerap serupa. Hubungan dimulai dari komunikasi jarak jauh yang intens—percakapan panjang, perhatian yang konsisten, dan kedekatan yang terasa cepat. Dalam waktu singkat, ekspektasi tumbuh. Bahkan, tidak jarang melompat pada rencana besar, seperti pernikahan, sebelum fondasi relasi benar-benar teruji.
Namun realitas bekerja dengan caranya sendiri.
Pertemuan singkat di dunia nyata seringkali menjadi titik balik. Apa yang terasa selaras di ruang digital, belum tentu bertahan di hadapan kenyataan. Dalam kerangka sosiologi, menyebut interaksi sosial sebagai panggung, tempat individu menampilkan versi terbaik dirinya. Media sosial memperluas panggung itu—membuat relasi tampak ideal, meski belum tentu utuh.
Ketika ekspektasi tidak bertemu kenyataan, respons yang muncul tidak selalu berupa kejelasan. Sebagian memilih diam. Sebagian lain memilih menjauh tanpa penjelasan. Dalam praktiknya, ini adalah bentuk penolakan yang tidak diucapkan.
Di sisi berbeda, pihak yang ditinggalkan sering kali tidak benar-benar diam. Ia tetap “berbicara”, tetapi melalui beranda. Status, sindiran, atau ungkapan samar menjadi medium pelampiasan. Masalahnya, media sosial tidak dirancang untuk memahami konteks—ia hanya menampilkan potongan.
Dalam perspektif psikologi komunikasi, melalui teori hyperpersonal communication menjelaskan bahwa interaksi daring cenderung menciptakan kedekatan yang terasa lebih intens dari kenyataan. Namun kedekatan itu dibangun di atas persepsi yang terkurasi, sehingga mudah retak ketika berhadapan dengan realitas yang tidak ideal.
Di titik ini, persepsi publik mulai terbentuk. Yang terbaca bukan keseluruhan cerita, melainkan fragmen. Keterbukaan emosi kerap dianggap kelemahan, sementara sikap diam ditafsirkan sebagai kedewasaan. Padahal, diam juga bisa menjadi bentuk penghindaran.
Jejak digital memperkuat bias tersebut. Status lama yang tidak dihapus, interaksi yang tersisa, dan potongan narasi yang terbuka menjadi bahan tafsir bebas. Tanpa klarifikasi, publik menyusun cerita sendiri. Dalam banyak kasus, yang paling dirugikan bukan selalu yang paling salah, tetapi yang paling terlihat.
Di sinilah problem utamanya: relasi yang tidak selesai secara personal berubah menjadi konsumsi publik. Komunikasi digantikan oleh sindiran, kejelasan dikalahkan oleh gengsi. Hubungan tidak benar-benar diakhiri, tetapi dibiarkan menggantung.
Padahal, esensi relasi yang sehat sederhana: kejelasan. Bertahan atau berpisah adalah pilihan, tetapi menggantungkan seseorang dalam ketidakpastian adalah persoalan lain. Ia bukan tanda kedewasaan, melainkan bentuk penghindaran yang halus.
Pada akhirnya, media sosial tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Ia hanya mempercepat pembentukan persepsi. Yang ramai belum tentu benar, dan yang diam belum tentu bijak.
Cinta mungkin tidak selalu berakhir bahagia. Namun, tanpa kejelasan, ia hampir pasti berakhir dengan luka—yang bukan hanya dirasakan, tetapi juga dipertontonkan.*
Penulis adalah
Pemerhati Sosial dan Wartawan.
