![]() |
| Foto: Kus Anselmus Kepala Desa Sumber Sari, Kecamatan Ketungau Tengah |
Sintang (Kalbar), transkapuas.com - Pemerintah Desa Sumber Sari, Kecamatan Ketungau Tengah, terus berupaya menjadikan kegiatan adat dan tradisi budaya sebagai bagian penting dalam program pembangunan desa. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan kegiatan adat yang digelar di Gedung Serbaguna pada Senin, 13 April 2026, yang melibatkan berbagai unsur masyarakat secara aktif.
Kepala Desa Sumber Sari, Kus Anselmus, menegaskan bahwa pelestarian adat dan budaya telah menjadi bagian dari visi dan misinya sejak mencalonkan diri sebagai kepala desa. Menurutnya, kegiatan adat tidak hanya dipandang sebagai warisan leluhur semata, tetapi juga sebagai potensi besar yang dapat dikembangkan untuk mendukung pembangunan desa berbasis kearifan lokal.
"Sesuai visi misi ketika mencalon kades, melestarikan adat budaya,”"ujarnya.
Ia menambahkan bahwa arah pengembangan desa ke depan memang difokuskan pada penguatan identitas budaya, meskipun masih menghadapi sejumlah kendala, terutama pada infrastruktur seperti jalan, listrik, dan jaringan telekomunikasi yang belum sepenuhnya memadai.
"Arah kita tentu ke sana, cuma kendala infrastruktur yang belum mendukung," tambahnya.
Meski demikian, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan adat sangat tinggi. Warga secara aktif terlibat dan memberikan dukungan penuh, bahkan secara swadaya dan gotong royong mempersiapkan berbagai perlengkapan dan peraga adat. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan desa di Sumber Sari benar-benar berbasis partisipasi masyarakat. “Mengingat desa tidak punya anggaran, masyarakat secara gotong royong mempersiapkan peraga adat," jelasnya.
Lebih lanjut, Anselmus menyampaikan bahwa kegiatan adat tersebut telah menjadi bagian dari agenda resmi pemerintah desa yang terintegrasi melalui perangkat adat. Ia juga melihat peluang besar bahwa jika kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun, maka dapat menarik minat masyarakat dari luar desa untuk datang dan menyaksikan langsung kekayaan budaya yang dimiliki Desa Sumber Sari.
Dari sisi ekonomi, kegiatan budaya ini dinilai mampu memberikan dampak positif, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat setempat. Kehadiran pengunjung dari luar desa berpotensi meningkatkan pendapatan warga.
Ke depan, Pemerintah Desa Sumber Sari juga berharap adanya dukungan lebih luas, termasuk dalam hal publikasi melalui media serta kerja sama dengan instansi terkait seperti Kominfo, guna memperkenalkan potensi budaya desa ke tingkat yang lebih luas.
Sebagai penutup, Anselmus berpesan bahwa adat dan budaya harus terus dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.
"Hidup tanpa adat budaya, bagaikan pohon tanpa akar," pungkaanya.
Kegiatan adat di Desa Sumber Sari menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan desa. Dengan semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat, tradisi leluhur tidak hanya dijaga, tetapi juga dikembangkan sebagai potensi untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat identitas desa.
Melalui pelestarian adat dan budaya, Desa Sumber Sari terus melangkah menuju pembangunan yang berkelanjutan, berbasis kearifan lokal, serta memperkuat kebersamaan dan kesejahteraan masyarakat.(RS)
