Sintang, (Kalbar), transkapuas.com - Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sintang, Yustinus J, S. Pd., M. A. P, menegaskan bahwa program pelatihan menjahit yang diselenggarakan pihaknya dirancang agar benar-benar berdampak pada kehidupan peserta. Hal itu disampaikan Yustinus saat dikonfirmasi media pada Senin, 13 April 2026.
Dalam penyampaiannya, Yustinus menjelaskan bahwa Disnakertrans tidak hanya berfokus pada pemberian keterampilan teknis menjahit semata.
"Kami memastikan pelatihan yang dilakukan akan berdampak pada pendapatan atau penyerapan kerja," ujarnya. Ia menekankan bahwa tujuan akhir program bukan berhenti pada kelulusan pelatihan, tetapi pada kemampuan peserta untuk memperoleh pekerjaan atau membuka usaha yang menghasilkan.
Untuk memastikan hal tersebut, Dinas menerapkan beberapa strategi. Pertama, Disnakertrans menyusun kurikulum berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan usaha lokal. Kedua, pelatihan juga menghadirkan instruktur berpengalaman sekaligus praktisi dari dunia usaha konveksi, sehingga proses belajar lebih nyata dan aplikatif. Peserta diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual selama pelatihan, agar mereka sejak awal memahami standar kualitas dan orientasi pasar. Selain itu, Dinas membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha konveksi, UMKM, maupun industri kreatif lokal, sehingga setelah pelatihan peserta tidak hanya punya keterampilan, tetapi juga terbuka kesempatan untuk terserap bekerja atau bermitra.
Yustinus menambahkan, peserta juga dibekali pemahaman dasar kewirausahaan dan pemasaran, sebagai bekal agar mereka memiliki pola pikir wirausaha dan mampu meningkatkan potensi penghasilan.
Lebih lanjut, Yustinus memaparkan indikator keberhasilan program yang digunakan Disnakertrans. "Kami menilai dari hasil nyata setelah pelatihan," katanya.
Indikator tersebut meliputi persentase peserta yang bekerja atau membuka usaha, peningkatan pendapatan dalam periode tertentu pasca pelatihan, serta jumlah peserta yang terserap di dunia kerja atau bermitra dengan usaha lokal. Dinas juga menilai tingkat kelulusan uji kompetensi atau sertifikasi, dan yang paling penting, memantau penurunan angka pengangguran terbuka, khususnya di Kabupaten Sintang. Evaluasi dilakukan melalui monitoring dan pelacakan alumni (tracer study) secara berkala.
Terkait rencana tindak lanjut, Yustinus menyatakan Disnakertrans menyiapkan langkah agar peserta benar-benar mandiri. Di antaranya pendampingan usaha bagi peserta yang ingin berwirausaha, penguatan jejaring dengan pelaku usaha dan UMKM, serta pembinaan lanjutan terkait manajemen usaha dan pemasaran digital. Untuk akses permodalan, ia menjelaskan saat ini belum sepenuhnya dapat dilakukan karena bergantung pada program dan skema yang berbeda setiap tahun, termasuk penyesuaian penganggaran serta kerja sama dengan lembaga keuangan atau program pemerintah. Namun upaya tersebut terus diupayakan.
Dengan pendekatan menyeluruh dari kurikulum, instruktur, orientasi produk, hingga evaluasi dan pendampingan Disnakertrans berharap pelatihan menjahit mampu melahirkan tenaga kerja yang siap terserap dan pelaku usaha yang berdaya saing, sehingga pengangguran di daerah sasaran dapat ditekan secara bertahap.(RS)
