![]() |
| Caption ; Salah satu Peserta dari kelurahan yang ada di kecamatan Kota Kayuagung OKI saat mereka turut partisipasi di acara tersebut acara midang . |
OKI, transkapuas.com – Kemegahan tradisi Midang Morge Siwe di Kayuagung tahun ini tak sepenuhnya membawa kegembiraan. Di balik arak-arakan budaya yang meriah, gelombang protes muncul dari LSM hingga warga yang merasa tradisi ini mulai kehilangan ruh kebersamaannya.
Ketua LSM Bende Seguguk, Ahmad Akbar, menyoroti perubahan rute Midang yang dinilai janggal dan tidak transparan.
“Ini baru pertama kali terjadi. Kelurahan Kota Raya, Perigi, dan Kayuagung Asli tidak dilalui. Ini bukan hal sepele, ini menyangkut rasa keadilan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Akbar, Midang selama ini dikenal sebagai simbol pemersatu. Ketika ada wilayah yang “ditinggalkan”, maka makna budaya itu sendiri dipertanyakan.
“Midang itu milik seluruh masyarakat Kayuagung. Kalau ada yang tidak dilalui, itu sama saja menghilangkan peran mereka dalam tradisi ini,” ujarnya.
Kritik serupa juga datang dari warga. Cik Unah mengaku kecewa karena wilayahnya tidak lagi menjadi bagian dari lintasan arak-arakan.
“Biasanya Midang lewat sini, ramai sekali. Sekarang tidak. Kami jadi seperti tidak dianggap,” keluhnya.
Ia menilai, perubahan ini membuat suasana Lebaran terasa berbeda dan mengurangi nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas Midang.
“Midang itu bukan hanya tontonan, tapi momen kami berkumpul, saling sapa. Kalau tidak lewat, ya hilang rasa itu,” tambahnya.
Senada, sejumlah warga lain seperti yusuf ,juga mempertanyakan arah kebijakan Dinas Pariwisata yang dianggap lebih menonjolkan aspek seremoni dibanding substansi budaya.
“Jangan sampai budaya hanya dijadikan event tahunan untuk formalitas, tapi melupakan masyarakat sebagai pemiliknya,” ujar seorang tokoh pemuda setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pariwisata Kabupaten OKI belum memberikan klarifikasi resmi terkait perubahan rute tersebut.
Ketiadaan penjelasan ini justru memperkuat kecurigaan publik bahwa pengelolaan tradisi mulai bergeser dari nilai budaya ke kepentingan tertentu.
Padahal, pemerintah daerah sebelumnya kerap menegaskan bahwa Midang adalah warisan budaya yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong royong, dan inklusivitas.
Kini, publik mempertanyakan konsistensi itu.
Jika Midang tidak lagi merangkul seluruh wilayah, maka yang terancam bukan hanya rute—melainkan makna dari tradisi itu sendiri.
Midang yang seharusnya menjadi ruang temu seluruh masyarakat Kayuagung, kini justru menyisakan luka: sebagian merasa dirayakan, sebagian lainnya merasa ditinggalkan.
(Mas Tris)
