![]() |
| Caption : Ketua DPRD OKI ,Farid Hadi Sasangko. |
OKI, transkapuas.com – Di tengah keterbatasan fiskal yang melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan,suara Ketua DPRD Farid Hadi Sasangko menegaskan pentingnya kebersamaan. Menurutnya, kemajuan OKI bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan milik seluruh elemen masyarakat.
“Disaat OKI krisis keuangan, semua elemen harus bahu membahu memajukan OKI. Dengan kerja sama rakyat, legislatif, dan eksekutif, insya Allah OKI bisa maju,” katanya, Minggu (28/9/2025).
Krisis Fiskal dan Partisipasi Publik
Pernyataan Farid lahir di tengah situasi daerah yang kian menantang. Anggaran terbatas, sementara kebutuhan pembangunan terus meningkat: infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan publik.
Namun krisis ini juga membuka ruang baru, yaitu partisipasi publik yang lebih aktif. Warga bukan lagi sekadar penonton, melainkan aktor penting dalam pembangunan.
PAD Belum Optimal
Pengamat kebijakan publik Sumsel, Salim Kosim, menilai keterbatasan fiskal OKI tidak terlepas dari lemahnya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“PAD OKI sebenarnya punya potensi besar, baik dari sektor pajak, retribusi, maupun pengelolaan aset daerah. Sayangnya, penggalian potensi ini belum maksimal, sehingga ketergantungan terhadap transfer pusat masih sangat tinggi,” ujarnya.
Menurut Salim, seruan kebersamaan yang disampaikan Ketua DPRD patut diapresiasi. Namun, hal itu harus dibarengi dengan transparansi anggaran serta peningkatan kinerja eksekutif dan legislatif dalam mengelola sumber keuangan daerah.
“Kalau tidak ada inovasi fiskal, beban pembangunan akan kembali ditarik ke masyarakat. Itu yang harus dihindari,” tegasnya.
Gotong Royong Akar Rumput
Meski demikian, semangat gotong royong sejatinya sudah lama hidup di akar rumput OKI. Dari membangun jalan desa, memperbaiki irigasi, hingga mendirikan rumah ibadah, semua dilakukan bersama.
Visi “OKI maju milik kita semua” hanya mungkin tercapai bila kebersamaan diikuti transparansi, akuntabilitas, dan inovasi. Seperti pepatah lokal, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
( Mas Tris)
